Author Archives: wib

Karena eh karena…

Waktu saya SMA dahulu kala, saya kepengen banget lulus biar terbebas dari masa SMA saya. Saya ndak mau bohong dengan bilang kalo masa SMA itu masa yang paling menyenangkan. Sekarang mungkin bisa dibilang begitu, tapi nyatanya, percaya sama saya, pikiran … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ndak biasa | 3 Komentar

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

Saya ndak terlalu suka buku2 self-help. Saya beranggapan kalau orang yang baca buku2 seperti itu adalah orang yang ndak bisa menolong dirinya sendiri. Nah, kalo kita ndak bisa menolong diri kita sendiri, bagemana kita bisa tolong menolong bergotong-royong dengan orang … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ngeresensi | 7 Komentar

semua sudah jadi lebur…

Tadi siang saya terhenti perempatan Gramedia dari sebelah timur. Matahari terik. Tapi pohon pinggir jalan rindang meneduhi. Ada gadis kecil berbaju biru duduk di bawahnya, di pinggir jalan juga, memeluk tumpukan koran sambil tertawa sipu. Di apit 2 gadis kecil … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ndak biasa | 1 Komentar

Bumi Manusia

Saya lupa tepatnya kapan mulai kenal sama Pramoedya, tapi sepertinya mulai KKN. Teman saya Devi yang mengenalkan. Dia bilang kalo tetraloginya Pram is the best tetralogy ever. Saya gelap mata, begitu ada yang dengan yakin berpendapat begitu, secepatnya saya cari, … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ngeresensi | 4 Komentar

ng…

hening jadi pertanyaan bening tak bisa jadi jawaban apa yang penting? dari ranting kering…

Dipublikasi di ndak biasa | 1 Komentar

Payung warna-warni..

Kemaren siang setelah hujan, langit masih gelap dan gerimis. Saya melewati sebuah jalan. Air menggenang di beberapa badan jalan. Seorang nenek berdiri di trotoar sambil memanggul barang bawaannya dan memegang erat payungnya yang berwarna-warni. Tanpa dinyana sebuah mobil datang tidak … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ndak biasa | 6 Komentar

for giving me the best day

Saya ada di dalam bis Trans Jogja di malioboro. Sore. Petang. Magrib. Waktu itu cuma ada saya dan 4 penumpang lain. Suara Dido terdengar mengalun menyanyikan “Thank you”. Untuk sesaat saya tepekur, saya merasa lelah sekali. Sesaat kemudian saya sadar, … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ndak biasa | 5 Komentar

Pengakuan Pariyem

Ketika saya masih berada di bangku SMA, kita sedang membahas sebuah naskah karangan SH. Mintarja, pelatih saya, Mas Tris, pernah bercerita kepada saya tentang sebuah tulisan yang saya lupa siapa penulisnya tapi saya ingat dengan sangat jelas judulnya, Pengakuan Pariyem. … Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ngeresensi | 9 Komentar