Karena eh karena…

Waktu saya SMA dahulu kala, saya kepengen banget lulus biar terbebas dari masa SMA saya. Saya ndak mau bohong dengan bilang kalo masa SMA itu masa yang paling menyenangkan. Sekarang mungkin bisa dibilang begitu, tapi nyatanya, percaya sama saya, pikiran kayak gitu ndak sepenuhnya bener. Kenapa? Karena eh karena, seperti yang pernah saya tulis di blognya teman saya, perasaan apapun yang kita rasakan itu berdiri di atas momentum. Mungkin saja sekarang kita berpikir kalo SMA itu indah menyenangkan ndak ada susah2nya, tapi tunggu dulu, siapa tau 3 tahun lagi pikiran kita yang itu berubah.

Eniwei, waktu kuliah juga saya kepengen cepet lulus yang sayangnya rasa kepengen itu datengnya akhir2, gyahaha… Walhasil, genap 5 tahun 6 bulan saya lulus. Kenapa waktu itu saya kepengen cepet lulus? Karena teman saya pada kurang ajar lulus duluan, hahaha… Jadinya saya sendirian di kampus, ditemani anak2 2004 yang juga tambah bangkotan lantaran ndak lulus2. Hamdallahnya adalah, masa studi mereka lebih lama dari saya, jadi minimal saya punya sedikit nilai lebih, wahaha… modaro…

Nah, begitu saya lagi rajin2nya nyari kerja, sungguh hebat teman2 sekalian, susahnya lumayan juga. Yah, kalo mau gampang tur duitnya banyak sih tinggal njambret aja. Tapi tetep, yang namanya kerjaan yang duitnya banyak ya resikonya juga besar. Tinggal pilih mau dgebukin sampe sekarat ato dibakar massa.

Saya teringat itu semua waktu suatu pagi di jalan yang ndak biasa saya lewati kalo berangkat kerja, saya lihat lelaki seumuran saya, mungkin lebih muda, berjualan koran di perempatan. Yang bikin saya tersenyum, karana lelaki tadi menawarkan korannya juga dengan senyum lebar yang tulus sekali. Dia juga memakai kostum yang rapi, kemeja plus celana jeans. Ndak seperti yang lain yang berpakaian sekenanya.

Dia menikmati apa yang dia lakukan.

Kembali saya teringat dengan cerita Andy Noya soal tukang kebun di stasiun televisinya (kalo ndak salah ini, hehehe…). Dia cerita kalo bapak si tukang kebun ini sebenernya pendidikannya tinggi, bukan sekedar lulusan SD ato SMP. Tapi dia mengerjakan pekerjaannya dengan tulus dan tekun. Pernah dia ditanya kenapa ndak mencari pekerjaan yang mungkin lebih pantas dengan gelar yang dia punya. Tapi dengan humble dia menjawab kalo dia senang di sini, dengan apa yang dia kerjakan, dengan apa yang jadi tugas dia.

Dia menikmati apa yang dia lakukan.

So, pelajaran yang saya dapat adalah, lakukan dan kerjakan hal yang bisa kita nikmati. Kalo ternyata kita harus melakukan hal wajib yang belum tentu kita senang, ya berusaha disenangi donk. Ndak ada hal yang ndak enak kalo kita tahu cara menikmatinya. Terdengar terlalu teori memang, terdengar susah dilakukan juga. Tapi kan ndak segalanya berawal dari cinta pada pandangan pertama.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di ndak biasa. Tandai permalink.

3 Responses to Karena eh karena…

  1. si.tam.pan berkata:

    ini pasti cerita tiputipu…

  2. wib_ berkata:

    anda benar jon, benar-benar ngawur…

  3. ipe berkata:

    hallo saya main ke sini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s