Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

Saya ndak terlalu suka buku2 self-help. Saya beranggapan kalau orang yang baca buku2 seperti itu adalah orang yang ndak bisa menolong dirinya sendiri. Nah, kalo kita ndak bisa menolong diri kita sendiri, bagemana kita bisa tolong menolong bergotong-royong dengan orang lain? hayo? bageman hayo?

Tapi suatu ketika saya melihat buku ini teronggok manis di tumpukan buku di TogaMas. pertama bengong, ini buku apaan sih, kok gambarnya ndak keren amat. Judulnya juga. Jangan2 ini buku buat yang hobi mancing. Tapi akhirnya saya ambil juga, hahaha…

Dan ternyata setelah saya baca belakangnya, ternyata ini buku ditulis sama seorang pertapa Budha dari Thailand yang lahir dulu katanya pernah lahir di London, yang sekrang tinggal di Australia.

Karena penasaran, saya beli juga itu buku, soalnya juga ada stempel, duit kita bakalan dikembalikan kalo ini buku ndak ada manfaatnya buat saya, hahaha…:D

Begitu baca cerita pertama, pikiran saya buat dapet kembalian duit saya hilang sudah. Buku ini ndak bakal saya kembalikan, karena harus nangkring di lemari buku saya. Akan saya coba untuk mengutip satu cerita.

Dalam aca diskusi lain di radio di mana saya sebagai tamu, seorang penelepon mengajukan pertanyaan, “Saya sudah menikah, saya berselingkuh dengan perempuan lain,dan istri saya tidak tahu. Apakah tidak apa2?”

“Jika itu tida apa2,” jawab saya, “Anda tidak akan menelepon untuk menanyakan itu.”

Banyak orang yang menanyakan pertanyaan semacam itu, sebenarnya tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah, tetapi dengan harapan beberapa “pakar” akan meyakinkan mereka bahwa perbuatan itu dapat dibenarkan. Jauh dalam lubuk hati, kebanyakan orang tahu apa yang salah dan apa yang benar-hanya saja, sebagian orang tidak mendengarkannya dengan seksama.

Jadi, buat yang suka, silakan baca saja, karena buat saya ini buku yang bagus. hehehe…:D

Tapi buat yang ndak suka, saya sarankan jangan beli, mending itu duit dipake buat makan sekaligus nraktir saya.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di ngeresensi. Tandai permalink.

7 Responses to Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

  1. Bety Ria Sersana berkata:

    mengko nak aku mbalik jogja, aku nyilih bukune wib…okay..:D

  2. wib berkata:

    hahaha…
    gundulmu bet…

  3. anitapuspitanegara berkata:

    jadi pengen baca, pak wib 😀

  4. Santi Dewi berkata:

    Selamat pagi,

    Perkenalkan nama saya Santi Dewi, saya mahasiswi semester 8 jurusan Public Relations di The London School of Public Relations Jakarta. Saat ini saya sedang menyusun skripsi saya yang berjudul “Persepsi Masyarakat Non Buddhis Terhadap Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya”. Guna untuk menyelesaikan penyusunan skripsi saya, saya mengumpulkan data dengan metode wawancara. Untuk itu saya berkeinginan untuk melakukan wawancara dengan saudara. Saya sangat senang sekali apabali saudara berkenan meluangkan waktunya sejenak untuk wawancara dengan saya. Apabila saudara tidak bersedia meluangkan waktu untuk saya wawancarai, mohon balas ke email saya dan kita dapat mengatur waktu untuk wawancara. Untuk perhatiannya, saya ucapkan banyak terima kasih.

    Regards,
    Santi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s