Bumi Manusia

Saya lupa tepatnya kapan mulai kenal sama Pramoedya, tapi sepertinya mulai KKN. Teman saya Devi yang mengenalkan. Dia bilang kalo tetraloginya Pram is the best tetralogy ever. Saya gelap mata, begitu ada yang dengan yakin berpendapat begitu, secepatnya saya cari, hahaha…

Pram menulis Bumi Manusia di pengasingannya di Pulau Buru tahun 1975, yang menurut Wikipedia Indonesia pernah dilarang beredar sama Jaksa Agung, padahal selama setahun mulai 1980-1981 sudah 10 kali dicetak ulang. Dan sampe tahun 2005 sudah diterbitkan sampe 33 bahasa.

Dan karena bukunya berkali-kali dicetak ulang, jadinya ndak sulit. TogaMas sudah siap sedia. Saya pun beli, yang buku pertama tentunya, Bumi Manusia. Awalnya sih waktu mau beli, saya bengong. Lha kok ini novel tebel amat, apa kuat mbacanya. Walaupun pada akhirnya saya bawa pulang juga, hehehe…

Berlatarkan tanah jawa di zaman pergantian abad 19 dan 20, Mingke, seorang pribumi terpelajar yang mencintai gadis seorang Belanda, Anneliesse, anak dari Tuan Millema dan Nyai Ontosoroh. Oya, Teater Gadjah Mada pernah mementaskan satu bagian cerita Bumi Manusia dengan judul “Nyai Ontosoroh”. Kenapa Nyai Ontosoroh? Karena tokoh ini adalah gambaran perempuan semua perempuan (terlepas dari statusnya tentunya).

Pada awalnya saya berpikir ini akan menjadi sebuah cerita cinta biasa yang sering kita kenal, tapi saya senang karena ternyata saya salah. Pram memang seorang penulis yang hebat. Tidak satu kali pun saya berpikir bahwa ini adalah novel dengan cerita biasa setelah waktu itu. Membacanya seperti berada di sana, di jalan-jalannya, di pendopo ruang tamunya, juga di kereta kudanya, dan semuanya.

Dan tanpa ragu, saya rekomendasikan buku ini untuk kita baca, karena buku ini adalah karya yang sangat hebat.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di ngeresensi. Tandai permalink.

4 Responses to Bumi Manusia

  1. pipibakpaw berkata:

    Jadi kita cuma teman *eh* hahahahhahahahhaha…
    Serius: Bumi Manusia itu bagus bgth,, bacanya sambil ngebayangin suasana kota2tua zaman dulu,, kayaknya lebih syadu dan nyaman dibanding sekarang. Karakter2nya kuat. Aih,, Pram emang jagoan. Kalo saya yg jd TAPOL [tahanan politik. dul], saya pasti bermuram durja tiap hari. Tp Pram malah bikin karya yg luar biasa. Jadi mikir,, kalo zaman Pram jd TAPOL udah ada BB dan beliau dibolehin bawa BB,, jangan2 tetralogi ini gak pernah ada..hahhahahhaha..

  2. septoadhi berkata:

    saya mo komen, tapi ganggu ga ya nanti *ahaaaayyy :lol:*

    toh sudah terlanjur komen, saya inget buku ini pernah mampir nginep di tempat saya, hmm, dari uraian situ, saya jadi inget bukunya Umar Kayam, yg trilogi, Para Priyayi, itu juga bagus lho kak Wib, beneran, saya *dengan meyakinkan* yakin kmu pasti suka!! *berharap situ langsung nyari :-P*

    • wib berkata:

      well…
      saya sudah baca itu buku yos, sejak SMA malah, dan beberapa waktu yang lalu saya baca lagi.
      dan memang sudah saya rencanakan untuk saya bahas, hahaha…:D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s