Karena eh karena…

Waktu saya SMA dahulu kala, saya kepengen banget lulus biar terbebas dari masa SMA saya. Saya ndak mau bohong dengan bilang kalo masa SMA itu masa yang paling menyenangkan. Sekarang mungkin bisa dibilang begitu, tapi nyatanya, percaya sama saya, pikiran kayak gitu ndak sepenuhnya bener. Kenapa? Karena eh karena, seperti yang pernah saya tulis di blognya teman saya, perasaan apapun yang kita rasakan itu berdiri di atas momentum. Mungkin saja sekarang kita berpikir kalo SMA itu indah menyenangkan ndak ada susah2nya, tapi tunggu dulu, siapa tau 3 tahun lagi pikiran kita yang itu berubah.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ndak biasa | 3 Komentar

Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya

Saya ndak terlalu suka buku2 self-help. Saya beranggapan kalau orang yang baca buku2 seperti itu adalah orang yang ndak bisa menolong dirinya sendiri. Nah, kalo kita ndak bisa menolong diri kita sendiri, bagemana kita bisa tolong menolong bergotong-royong dengan orang lain? hayo? bageman hayo?

Tapi suatu ketika saya melihat buku ini teronggok manis di tumpukan buku di TogaMas. pertama bengong, ini buku apaan sih, kok gambarnya ndak keren amat. Judulnya juga. Jangan2 ini buku buat yang hobi mancing. Tapi akhirnya saya ambil juga, hahaha…

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ngeresensi | 7 Komentar

semua sudah jadi lebur…

Tadi siang saya terhenti perempatan Gramedia dari sebelah timur. Matahari terik. Tapi pohon pinggir jalan rindang meneduhi. Ada gadis kecil berbaju biru duduk di bawahnya, di pinggir jalan juga, memeluk tumpukan koran sambil tertawa sipu. Di apit 2 gadis kecil lain berseragam biru putih yang juga ikut tertawa bersama. Satu gadis berseragam lain ikut pula tertawa dengan berdiri sambil menawarkan koran milik si gadis kecil berbaju biru kepada mobil di belakang saya.

Lampu hijau. Dalam bayangan saya berikutnya, mereka makin sering tergelak seperti lupa apa dan siapa. Semua sudah jadi lebur. Terkadang kita lupa ternyata kita semua sama, kita lupa ternyata kita juga mereka, dan kita sering diingatkan semua bukan tentang baju seragam dan setumpuk koran.

Dan saya merasa tercubit sedikit tapi ndak sakit. Kita merasa tercubit sedikit?

Dipublikasi di ndak biasa | 1 Komentar

Bumi Manusia

Saya lupa tepatnya kapan mulai kenal sama Pramoedya, tapi sepertinya mulai KKN. Teman saya Devi yang mengenalkan. Dia bilang kalo tetraloginya Pram is the best tetralogy ever. Saya gelap mata, begitu ada yang dengan yakin berpendapat begitu, secepatnya saya cari, hahaha…

Pram menulis Bumi Manusia di pengasingannya di Pulau Buru tahun 1975, yang menurut Wikipedia Indonesia pernah dilarang beredar sama Jaksa Agung, padahal selama setahun mulai 1980-1981 sudah 10 kali dicetak ulang. Dan sampe tahun 2005 sudah diterbitkan sampe 33 bahasa.

Dan karena bukunya berkali-kali dicetak ulang, jadinya ndak sulit. TogaMas sudah siap sedia. Saya pun beli, yang buku pertama tentunya, Bumi Manusia. Awalnya sih waktu mau beli, saya bengong. Lha kok ini novel tebel amat, apa kuat mbacanya. Walaupun pada akhirnya saya bawa pulang juga, hehehe…

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ngeresensi | 4 Komentar

ng…

hening jadi pertanyaan

bening tak bisa jadi jawaban

apa yang penting?

dari ranting kering…

Dipublikasi di ndak biasa | 1 Komentar

Payung warna-warni..

Kemaren siang setelah hujan, langit masih gelap dan gerimis. Saya melewati sebuah jalan. Air menggenang di beberapa badan jalan. Seorang nenek berdiri di trotoar sambil memanggul barang bawaannya dan memegang erat payungnya yang berwarna-warni. Tanpa dinyana sebuah mobil datang tidak dengan pelan, melewati genangan air. Si nenek terciprat. Sebagian jaritnya basah. Dan dia cuma bisa tersenyum.

Untuk sesaat saya memaki dalam hati, “Wong edan, ngawur…!!!”

Sesaat kemudian saya berpikir, ternyata masih ada perbuatan sederhana tidak baik yang bisa tidak kita lakukan…

Dipublikasi di ndak biasa | 6 Komentar

for giving me the best day

Saya ada di dalam bis Trans Jogja di malioboro. Sore. Petang. Magrib. Waktu itu cuma ada saya dan 4 penumpang lain. Suara Dido terdengar mengalun menyanyikan “Thank you”.

Untuk sesaat saya tepekur, saya merasa lelah sekali. Sesaat kemudian saya sadar, kalau di barat sana, matahari mulai tenggelam berwarna tembaga. Langit masih biru tua. Lampu kota hidup satu-satu, kuning dan berpendar.

Saya lupa betapa indahnya petang hari, saya lupa betapa mendebarkannya pagi hari. Saya lupa betapa Tuhan sudah membuat setiap hari saya begitu hebat. saya lalu ingat semuanya, dan lelah saya hilang….

Dipublikasi di ndak biasa | 5 Komentar

Pengakuan Pariyem

Ketika saya masih berada di bangku SMA, kita sedang membahas sebuah naskah karangan SH. Mintarja, pelatih saya, Mas Tris, pernah bercerita kepada saya tentang sebuah tulisan yang saya lupa siapa penulisnya tapi saya ingat dengan sangat jelas judulnya, Pengakuan Pariyem. Beliau bercerita kalau tulisan itu adalah tulisan yang hebat. Sebuah prosa liris yang notabene memang bukan jenis tulisan yang umum, yang notabene juga sama dengan jenis tulisan di naskah karya bung SH. Mintarja tadi, Roro Jonggrang.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di ngeresensi | 9 Komentar