yang dicari…
-
yang bisa dibaca…
-
yang mereka bilang...
wib_ on Karena eh karena… si.tam.pan on Karena eh karena… indira on iya wib on iya wib on Android 2.2 Froyo on Xperia… wib on Si Cacing dan Kotoran Kes… CSN on Gita Gutawa new album.. moongee aya on iya Santi Dewi on Si Cacing dan Kotoran Kes… Popo25 on Android 2.2 Froyo on Xperia… yang berkelompok…
Prasasti
Posted in poto op de mon
Tinggalkan komentar
Karena eh karena…
Waktu saya SMA dahulu kala, saya kepengen banget lulus biar terbebas dari masa SMA saya. Saya ndak mau bohong dengan bilang kalo masa SMA itu masa yang paling menyenangkan. Sekarang mungkin bisa dibilang begitu, tapi nyatanya, percaya sama saya, pikiran kayak gitu ndak sepenuhnya bener. Kenapa? Karena eh karena, seperti yang pernah saya tulis di blognya teman saya, perasaan apapun yang kita rasakan itu berdiri di atas momentum. Mungkin saja sekarang kita berpikir kalo SMA itu indah menyenangkan ndak ada susah2nya, tapi tunggu dulu, siapa tau 3 tahun lagi pikiran kita yang itu berubah.
Posted in ndak biasa
2 Komentar
Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya
Saya ndak terlalu suka buku2 self-help. Saya beranggapan kalau orang yang baca buku2 seperti itu adalah orang yang ndak bisa menolong dirinya sendiri. Nah, kalo kita ndak bisa menolong diri kita sendiri, bagemana kita bisa tolong menolong bergotong-royong dengan orang lain? hayo? bageman hayo?
Tapi suatu ketika saya melihat buku ini teronggok manis di tumpukan buku di TogaMas. pertama bengong, ini buku apaan sih, kok gambarnya ndak keren amat. Judulnya juga. Jangan2 ini buku buat yang hobi mancing. Tapi akhirnya saya ambil juga, hahaha…
Posted in ngeresensi
7 Komentar
semua sudah jadi lebur…
Tadi siang saya terhenti perempatan Gramedia dari sebelah timur. Matahari terik. Tapi pohon pinggir jalan rindang meneduhi. Ada gadis kecil berbaju biru duduk di bawahnya, di pinggir jalan juga, memeluk tumpukan koran sambil tertawa sipu. Di apit 2 gadis kecil lain berseragam biru putih yang juga ikut tertawa bersama. Satu gadis berseragam lain ikut pula tertawa dengan berdiri sambil menawarkan koran milik si gadis kecil berbaju biru kepada mobil di belakang saya.
Lampu hijau. Dalam bayangan saya berikutnya, mereka makin sering tergelak seperti lupa apa dan siapa. Semua sudah jadi lebur. Terkadang kita lupa ternyata kita semua sama, kita lupa ternyata kita juga mereka, dan kita sering diingatkan semua bukan tentang baju seragam dan setumpuk koran.
Dan saya merasa tercubit sedikit tapi ndak sakit. Kita merasa tercubit sedikit?
Posted in ndak biasa
1 Komentar
Bumi Manusia
Saya lupa tepatnya kapan mulai kenal sama Pramoedya, tapi sepertinya mulai KKN. Teman saya Devi yang mengenalkan. Dia bilang kalo tetraloginya Pram is the best tetralogy ever. Saya gelap mata, begitu ada yang dengan yakin berpendapat begitu, secepatnya saya cari, hahaha…
Pram menulis Bumi Manusia di pengasingannya di Pulau Buru tahun 1975, yang menurut Wikipedia Indonesia pernah dilarang beredar sama Jaksa Agung, padahal selama setahun mulai 1980-1981 sudah 10 kali dicetak ulang. Dan sampe tahun 2005 sudah diterbitkan sampe 33 bahasa.
Dan karena bukunya berkali-kali dicetak ulang, jadinya ndak sulit. TogaMas sudah siap sedia. Saya pun beli, yang buku pertama tentunya, Bumi Manusia. Awalnya sih waktu mau beli, saya bengong. Lha kok ini novel tebel amat, apa kuat mbacanya. Walaupun pada akhirnya saya bawa pulang juga, hehehe…
Posted in ngeresensi
4 Komentar
ng…
hening jadi pertanyaan
bening tak bisa jadi jawaban
apa yang penting?
dari ranting kering…
Posted in ndak biasa
1 Komentar



